|
Relating to the AC-FTA implementation, some parties highlight export and import growth from Indonesia to China. The issue was expressed by the Head of Fiscal Policy at the Ministry of Finance, Anggito Abimanyu.
He stated that the growth of international trade with China, Indonesia export got deficit. In the Hearing with the House of Representatives’ Commission XI (2/1), he focused on the import that greater than export growth. Anggito explained Indonesia's export to China was really increasing, i.e. from 6.5 percent in 2004 to 9.9 percent in 2009. However, Indonesia’s import from China was far greater, namely 8.8 percent in 2004 to 12.1 percent in 2009. According to him, a big ratio of export-import figure makes Indonesia as a recipient country. Increase in percentage of export to China is negatively proportional with Indonesian export to the U.S. and Japan. In 2004, the U.S. recorded contributing 12.3 percent of total export, and then the number decreased to 9.8 in 2009. As for Japan, in 2004 Indonesia's total export reached 22.3 percent, and then fell to 16 percent in 2009. Similarly, Indonesia's import figure from the U.S. and Japan, where in 2009 was recorded to 6.3 and 8.7 percent, down from 6.9 and 13.1 percent in 2004. Upon this, the Vice Chairman of Commission XI Achsanul Qosasi said the government should be aware of depreciation of the Yuan value by 17 per cent against the Rupiah. It affects the price of Indonesian goods in China will be 17 percent more expensive. In the contrary, in Indonesia, the China goods will be 17 percent cheaper. Achsanul said it could be a bad development for free-market policy of Indonesia. Defisit Ekspor Masih Menghantui Indonesia Terkait penerapan AC-FTA beberapa pihak menyoroti pertumbuhan ekspor dan impor Indonesia ke Negara Tirai Bambu itu. Hal ini setidaknya dinyatakan oleh Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan, Anggito Abimanyu.  Ia menyatakan, dibalik pertumbuhan perdagangan internasional dengan China, Indonesia mengalami defisit ekspor. Dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi XI DPR (1/2), ia menitik-beratkan pada pertumbuhan impor yang lebih besar dari pertumbuhan ekspor. Anggito mencontohkan, ekspor Indonesia ke China memang meningkat, yakni dari 6,5 persen pada 2004, menjadi 9,9 persen pada 2009. Namun, impor Indonesia dari yang mulai membayangi ekonomi Amerika Serikat dan Jepang itu jauh lebih besar, yakni 8,8 persen pada 2004, menjadi 12,1 persen pada 2009. Menurutnya, perbandingan angka ekspor-impor yang cukup besar itu menyebabkan Indonesia menjadi negara penerima. Peningkatan persentase ekspor ke China ini, berbanding negatif dengan ekspor Indonesia ke AS dan Jepang. Pada 2004, tercatat AS menempati 12,3 persen dari total ekspor, kemudian angka itu turun menjadi 9,8 pada 2009. Sedangkan untuk Jepang, pada 2004 total ekspor Indonesia mencapai 22,3 persen, lalu turun menjadi 16 persen pada 2009. Sama halnya dengan angka impor Indonesia dari AS dan Jepang, di mana pada 2009 tercata sebesar 6,3 dan 8,7 persen, turun dari 6,9 dan 13,1 persen pada 2004. Atas hal ini, Wakil Ketua Komisi XI, Achsanul Qosasi mengatakan pemerintah harus mewaspadai depresiasi nilai Yuan sebesar 17 persen terhadap rupiah. Hal ini akan berdampak pada harga barang Indonesia yang dijual di China jadi lebih mahal 17 persen. Begitu juga sebaliknya barang China di Indonesia akan lebih murah 17 persen. Achsanul menyatakan hal itu dapat menjadi perkembangan yang kurang baik bagi kebijakan pasar bebas Indonesia. |