Advertisement Advertisement Advertisement
 
 
Lost Password?
APSyFI: The national textile industry is headed for a trade deficit, 2018 exports grow 1% and imports grow 14% (yoy).--IKATSI: The growth of the national textile industry is still hampered by floods of imports, Indonesia needs a clothing security law.


	
Product
Find millions of selling leads from around the world,now!
Featured Company
TIFICO FIBER INDONESIA PT (PT. TIFICO)
PAN ASIA, PT
SUSILIA INDAH SYNTHETIC FIBERS INDUSTRIES, PT (SULINDAFIN)
Pollyfin Canggih, PT
PT. TESTEX TESTING AND CERTIFICATION

Data & Statistic
  INDONESIA' EXPORTS / IMPORTS OF TEXTILE COMMODITIES
  Indonesia Manufacturing Export Import Data

Special Feature
  Texprocess presents ‘Digital Textile Micro Factory’ for the first time
Home arrow Latest News arrow Starting Trying, Again Kebaya Beautiful determined popularized Encim Classic


				
			
			
Starting Trying, Again Kebaya Beautiful determined popularized Encim Classic PDF Print E-mail
Written by editor   
Wednesday, 05 December 2012

Starting from a collection of batik cloth of various shades and origin, Beautiful Darsitorukmi, 48, thinks fit to develop the equivalent of a collection of batik. Finally, three years ago popped intention to make kebaya encim. Overview kebaya encim are marketed on a limited basis this seems the same as the kebaya in general. However, when considered encim Beautiful kebaya look more classic.

 

"Kebaya encim is different from others. I want to re-raise kebaya classic encim now getting hard to find. And it turns out that many seek, "he said.

 

Beautiful claims currently quite hard to find classic encim kebaya. Because the materials used from the type of fabric, yarn, embroidery production techniques are difficult to find. Even to look for cotton yarn was already very scarce.

 

"My difficulty is plenty and varied. Kebaya classic encim not only from its shape, but also covers materials, workmanship embroidery floss to the classic technique, "he said.

 

Women who originally opened the business admitted even this batik cotton yarn needed in making embroidery patterns, should be acquired in East Java. Even the factory about to close, so that raw material shortages even this fairly overwhelmed.

 

"The factory that makes this cotton yarn is about to close. I still do not want to take the risk to buy it from abroad, because it certainly will be more expensive, "said resident Gandok, Rambaan, Sinduarjo, Sleman this.

 

To date he started the business since 2008 is still subsidized by them independently. Although many banks have already offered him, but everything is still in the process of operation. Beautifully said a month ago BRI offered soft loans to expand their businesses.

 

"I happen to join an organization that embodies the creative industries. Then from there, BRI bank records, and then me and a few people were called craftsmen. But it is still waiting for the process, "he explained.

 

Lovely said the program in favor of SMEs BRI bank actually expected. Besides cheap unsecured loans, the opportunity for a broader product market is wide open. "All will be facilitated by the bank, but it is also well trained on management and on production. This program is very helpful and needed by SMEs as I am, "he continued.

 

Kebaya encim not only unique in design of fashion alone. But also full of texture and unique embroidery. Beautiful admitted Jogja not been able to support the efforts of the SDM. During this time he had to commute to Surabaya to kebaya send to dibordirkan in a village.

 

"Here [Yogyakarta] I've been looking pembordir that suits me, but most of them can not and do not want to embroider with manual machines," he said.

 

Beautifully said manual machining that still use leg power to move it is difficult to find in Jogja. Even if there was a more modern engines, however, limited work embroidery.

 

This constraint hitherto made kebaya is beautiful only produce a limited number. Work on one of kebaya enough takes about two weeks. One month encim kebaya classic colors and classic design brodir only able to produce three to four kebaya. The price of a sheet of kebaya encim sold from classic to the most expensive price Rp300.000 Rp700.000.

 

"I wanted to be able to hope HR in Jogja, but what can we do. Of course quality, human resources in East Java was more skilled embroidery, "said Indah.

 

 

Berawal Coba-coba, Indah Bertekat Populerkan Lagi Kebaya Encim Klasik

 

 

Berawal dari mengoleksi kain batik dari beragam corak dan asal, Indah Darsitorukmi, 48, berpikir mengembangkan padanan yang cocok dengan koleksi batiknya. Akhirnya, tiga tahun yang lalu tercetuslah niatan untuk membuat kebaya encim. Sekilas kebaya encim yang dipasarkannya secara terbatas ini nampak sama dengan kebaya pada umumnya. Namun, bila diperhatikan kebaya encim Indah nampak lebih klasik.

 

“Kebaya encim ini beda dengan lainnya. Saya ingin kembali mengangkat kebaya encim klasik yang kini sudah mulai sulit ditemui. Dan ternyata banyak yang mencari,” ujarnya.

 

Indah mengklaim saat ini cukup sulit untuk menemukan kebaya encim klasik. Pasalnya, bahan yang digunakan mulai dari jenis kain, benang, bordir hingga teknik produksinya sudah sulit ditemukan. Bahkan untuk mencari benang katun pun sudah sangat langka.

 

“Kesulitan saya cukup banyak dan beragam. Kebaya encim klasik itu tak hanya dari bentuknya saja, tapi juga meliputi bahan, benang hingga teknik pengerjaan bordirnya yang klasik,” tandasnya.

 

Perempuan yang awalnya membuka usaha batik inipun mengaku benang katun yang dibutuhkannya dalam membuat pola-pola bordiran, harus didapatkannya di Jawa Timur. Pabriknya bahkan sudah mau tutup, sehingga keterbatasan bahan baku inipun cukup membuatnya kewalahan.

 

“Pabrik yang membuat benang katun ini sudah mau tutup. Saya masih belum mau ambil resiko dengan membelinya dari luar negeri, karena harganya pasti akan semakin mahal,” ujar warga Gandok, Rambaan, Sinduarjo, Sleman ini.

 

Hingga saat ini usaha yang dirintisnya sejak tahun 2008 ini masih disubsidi secara mandiri olehnya. Meski banyak bank yang sudah menawarinya, tapi semuanya masih dalam proses operasional. Indah menyebutkan sebulan yang lalu Bank BRI menawari kredit lunak untuk mengembangkan usahanya.

 

“Kebetulan saya bergabung dengan sebuah organisasi yang mewadahi industri-industri kreatif. Lalu dari sana, bank BRI mendata, lalu saya dan beberapa orang pengrajin dipanggil. Tapi sampai saat ini masih menunggu proses,” jelasnya.

 

Indah mengatakan program bank BRI dalam mendukung UMKM benar-benar diharapkannya. Disamping pemberian kredit murah tanpa jaminan, kesempatan untuk memasarkan produk lebih luas terbuka lebar. “Semua akan difasilitasi oleh bank, selain itu diberi pelatihan juga baik tentang manajemennya maupun tentang produksi. Program ini sangat membantu dan dibutuhkan oleh pelaku UKM seperti saya,” lanjutnya.

 

Kebaya encim tak hanya unik pada desain busananya saja. Melainkan juga tekstur bordirnya yang penuh dan unik. Indah mengaku Jogja belum mampu mendukung usahanya dari sisi SDM. Selama ini dia harus bolak-balik ke Surabaya untuk mengirimkan kebaya tersebut untuk dibordirkan di sebuah desa.

 

“Di sini [Jogja] saya sudah cari-cari pembordir yang sesuai dengan keinginan saya, tapi kebanyakan mereka tidak bisa dan tidak mau membordir dengan mesin manual,” tandasnya.

 

Indah mengatakan pengerjaan dengan mesin manual yang masih menggunakan tenaga kaki untuk menggerakkannya sudah sulit ditemui di Jogja. Kalaupun ada itu dengan mesin yang lebih modern, namun, dibatasi pengerjaan bordirnya.

 

Kendala inilah yang sampai saat ini membuat Indah hanya memproduksi kebaya tersebut dalam jumlah terbatas. Pengerjaan satu kebaya saja sudah cukup memakan waktu sekitar dua minggu. Satu bulannya kebaya encim klasik dengan warna dan desain brodir klasiknya hanya mampu memproduksi tiga sampai empat kebaya. Harga satu lembar kebaya encim klasiknya dijual mulai harga Rp300.000 hingga yang termahal Rp700.000.

 

“Harapan saya inginnya bisa dapat SDM di Jogja, tapi mau bagaimana lagi. Dari kualitasnya saja, SDM di Jawa Timur ternyata lebih terampil membordir,” pungkas Indah.

 
		
More Latest News & Recent
Clothing Sales in Ramadan Increase 20% But Majority from China
The Textile Industry in Ramadhan This Tends Decline 40%
The Textile Association Feel the Impact of China-American Trade War
Textile Entrepreneurs Request Government to Concern About Difficulties in Raw Materials
Textile and Garment Entrepreneurs in West Java Complain of Expensive Labor Wages
Latest Selling Leads
kain twill kembang 2019-03-26
Printmate 2017-10-27
Label 2017-04-07
Canvas Fabric 2016-04-29
POST   |   MORE
Latest Buying Leads
kain katun jepang 2019-03-26
Cari Kain 2019-03-26
Twill Pants 2017-04-07
All Finish Fabric 2016-03-21
POST   |   MORE
  EXPERT PERSPECTIVE
Export Perspective of Textiles Industry
Suharno
IKATSI Chairman
Export Perspective of Textiles Industry
Read more...
Advertisement
Advertisement
Advertisement
 
 | Home | About Us | Contact Us | Organization Link | Our Publication | Advertisement | Sitemap | CSR | Term & Condition  | 
Copyright © 2008, All rights reserved by CV. Gaindo Pratama Indonesia.