Advertisement Advertisement Advertisement
 
 
Lost Password?
APSyFI: The national textile industry is headed for a trade deficit, 2018 exports grow 1% and imports grow 14% (yoy).--IKATSI: The growth of the national textile industry is still hampered by floods of imports, Indonesia needs a clothing security law.


	
Product
Find millions of selling leads from around the world,now!
Featured Company
TIFICO FIBER INDONESIA PT (PT. TIFICO)
PAN ASIA, PT
SUSILIA INDAH SYNTHETIC FIBERS INDUSTRIES, PT (SULINDAFIN)
Pollyfin Canggih, PT
PT. TESTEX TESTING AND CERTIFICATION

Data & Statistic
  INDONESIA' EXPORTS / IMPORTS OF TEXTILE COMMODITIES JAN-MAR 2019
  INDONESIA' EXPORTS / IMPORTS OF TEXTILE COMMODITIES

Special Feature
  Texprocess presents ‘Digital Textile Micro Factory’ for the first time
Home arrow Latest News arrow PT Dan Liris Textile Company in 3 Era


				
			
			
PT Dan Liris Textile Company in 3 Era PDF Print E-mail
Written by Maizer   
Friday, 13 May 2016

The history of one of the 'maestro' textiles in Indonesia, PT Dan Liris started since 1928 in Solo, Central Java. At that time  Kasom Tjokrosaputro and his (almh) Gaitini batik trade started his business from door to door. Son Kasom, Handoko and Handiman, then grow the business to textile production. The textile business is booming and still continue to exist until the third generation, which is currently captained by Michelle Tjokrosaputro.

 

Maintaining the family business up to three generations is not an easy matter, especially in the midst of a global economic crisis that is fraught with uncertainty as it is today. World economic slowdown continued in 2016, which would also have a direct impact to the business world.

 

It is also well recognized by third child (late) Handiman Tjokrosaputro, the owner of PT Dan Liris, as well as grandchildren (late) Kasom Tjokrosaputro, the founder's Batik Keris.

 

"As it is known that the textile industry and textile production in 2015 decreased, resulting in the market into a drop. Still, there are positive things that spur the company's performance this year, namely the availability of employees with skills in the areas of production, "he said in the editorial Indonesian Industry.

 

Moreover, the weakening rupiah happened lately considered like two sides of a coin for Michelle. On the one hand it boost the company's export performance, but on the other hand made a lackluster performance in the country precisely because of the declining purchasing power.

 

Nevertheless, he remains optimistic stared in 2016 which has been running up to 4 months. Of course, by not installing grandiose targets by continuing to develop its production to expand into more promising market.

 

"Projected revenue growth in 2016 we expect a period of only 3 to 5 percent from a year ago. In addition there are many plans for 2016 to continue to expand production to expand into more promising market, "he said.

 

The focus of the domestic market

 

Michelle recognized the current competitiveness of the local textile industry to import foreign or very tight, especially in terms of price. However, the domestic textile industry still has competitiveness as most certain textile products still subject to save guard of a particular country.

 

Currently, the market share and Lyrical dominated in the country. In a note Michelle, in 2015 the market share of the company's product sales greige fabric, solid and printing is exporting 30 percent, 70 percent local. For export sales of yarn is 40 percent, 60 percent local. As for the garment remains 100 per cent of exports.

 

As one of the textile giant in Indonesia, a variety of products manufactured by Dan Liris. Among the products of textile yarn, greige fabric, dyeing, printing and garment products are made from 100% cotton, TC Bland, CVC, tensel, 100% polyester, 100% Rayon and TR. With the motto "Together Forward Becoming the Best" And Lyrical products have now been exported to Europe, USA, Japan, China, Australia and several countries in Asia. Some big brands are becoming regulars of Dan Liris including Gymboree, Disney, Phillip Van Heusen, M & S, and several other brands.

 

Meanwhile, the challenges of textile industry in 2016 is recognized Michelle is very diverse. Starting from marketing constraints to high raw material prices.

 

"Obstacles marketing across various causal factors include high product prices, especially garment raw materials still much depends on imports. Another constraint is the buyer who requested the maturity up to 60 days, "She said.

 

With all these problems, according to him, it is important to sustain the performance of the national textile industry a trade agreement or the Free Trade Agreement opened by the government. As one of the strategic commodities with high export value, the textile industry is the most ready when the FTA is implemented.

 

"The FTA is important because it will make exports more open market and the price can compete with other countries so that the national industry can flourish. "She said.

 

Not only that, he also hopes the government can further expand the area of ​​this particular FTA agreements Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) so as to encourage the textile industry to decline throughout 2015 yesterday.

 

Earlier, Chairman of the Indonesian Textile Association (API) Ade Sudrajat Usman said potential if the US and EU markets open, exports will increase, production and employment will also increase. Not to mention this time investors from within and outside the country are still waiting for the announcement of this agreement took place.

 

"If the trade agreement is to run for our projection in 2025 will increase to USD17,8 billion. And workers absorbed 2.3 million people, "he said.

 

 

PT Dan Liris Perusahaan Tekstil 3 Zaman

 

 

Sejarah salah satu ‘maestro’ tekstil di Indonesia, PT Dan Liris dimulai sejak tahun 1928 di Solo, Jawa Tengah. Pada saat itu (alm) Kasom Tjokrosaputro dan sang istrinya (almh) Gaitini memulai usahanya berdagang batik dari pintu ke pintu. Putra Kasom, Handoko dan Handiman, kemudian mengembangkan bisnis ke produksi tekstil. Usaha tekstil tersebut berkembang pesat dan masih terus eksis hingga generasi ketiga, yang saat ini dinakhodai oleh Michelle Tjokrosaputro.

 

Mempertahankan bisnis keluarga hingga tiga generasi bukanlah perkara yang mudah, apalagi di tengah krisis ekonomi global yang penuh dengan ketidakpastian seperti sekarang ini. Perlambatan ekonomi dunia yang masih berlanjut di 2016, yang tentunya juga berdampak langsung ke dunia usaha.

 

Hal tersebut pun diakui betul oleh anak ketiga (alm) Handiman Tjokrosaputro, pemilik PT Dan Liris, sekaligus cucu (alm) Kasom Tjokrosaputro, pendiri Batik Keris ini.

 

“Sebagaimana diketahui bahwa industri tekstil dan produksi tekstil tahun 2015 menurun sehingga mengakibatkan pasar menjadi drop. Namun tetap ada hal positif yang memacu kinerja perseroan tahun ini, yakni ketersediaan karyawan yang mempunyai skill dalam bidang produksi,” ujar dia pada redaksi Indonesian Industry.

 

Selain itu, pelemahan Rupiah yang terjadi belakangan ini diangggap bak dua sisi mata uang bagi Michelle. Di satu sisi memang menggenjot kinerja ekspor perseroan, namun di sisi lain membuat kinerja dalam negeri justru loyo karena menurunnya daya beli masyarakat.

 

Meski demikian, pihaknya tetap optimis menatap 2016 yang sudah berjalan hingga 4 bulan ini. Tentu saja dengan tidak memasang target yang muluk-muluk dengan terus mengembangkan produksinya untuk ekspansi ke pasar yang lebih menjanjikan.

 

“Proyeksi pertumbuhan revenue periode tahun 2016 kami perkirakan hanya antara 3 sampai 5 persen dari tahun lalu. Selain itu ada banyak rencana untuk 2016 dengan terus mengembangkan produksi untuk ekspansi ke pasar yang lebih menjanjikan,” kata dia.

 

Fokus pasar dalam negeri

 

Diakui Michelle saat ini daya saing industri tekstil lokal dengan asing atau impor sangat ketat, terlebih dari segi harga. Namun demikian, industri tekstil dalam negeri masih memiliki daya saing karena sebagian produk tekstil tertentu masih dikenakan save guard dari negara tertentu.

 

Saat ini, pangsa pasar Dan Liris didominasi di dalam negeri. Dalam catatatan Michelle, tahun 2015 pangsa pasar perseroan untuk penjualan produk kain greige , solid dan printing adalah ekspor 30 persen, lokal 70 persen. Untuk penjualan benang adalah ekspor 40 persen, lokal 60 persen. Sementara untuk garment tetap 100 persen ekspor.

 

Sebagai salah satu raksasa tekstil di Indonesia, beragam produk diproduksi oleh Dan Liris. Diantaranya produk tekstil benang, kain greige, dyeing, printing, dan produk garment yang terbuat dari 100 % cotton , TC Bland, CVC,Tensel,100 % polyester, 100 % Rayon dan TR. Dengan motto “Maju Bersama Menjadi Yang Terbaik“, produk-produk Dan Liris tersebut kini telah diekspor hingga ke Eropa, Amerika Serikat, Jepang, China, Australia dan beberapa negara di Asia. Beberapa merk besar yang menjadi pelanggan tetap dari Dan Liris diantaranya Gymboree, Disney, Phillip Van Heusen, M&S, dan beberapa merk lainnya.

 

Sementara itu, tantangan industri tekstil di 2016 ini diakui Michelle sangat beragam. Mulai dari kendala pemasaran hingga harga bahan baku yang tinggi.

 

“Kendala pemasaran dengan barbagai faktor penyebab antara lain harga produk tinggi, khususnya garment yang bahan bakunya masih banyak tergantung pada impor. Kendala lainnya adalah buyer yang minta tempo pembayaran hingga 60 hari,” ujarnya.

 

Dengan segala permasalahan tersebut, menurutnya, penting untuk menopang kinerja industri TPT nasional sebuah perjanjian dagang atau Free Trade Agreement dibuka oleh pemerintah. Sebagai salah satu komoditas yang strategis dengan nilai ekspor yang tinggi, tekstil merupakan industri yang paling siap ketika FTA tersebut dijalankan.

 

“FTA itu penting karena akan membuat pasar ekspor lebih terbuka dan harga bisa bersaing dengan negara lain sehingga industri nasional bisa berkembang. ” ujarnya.

 

Tidak hanya itu, pihaknya juga berharap pemerintah dapat lebih memperluas daerah dari FTA ini khususnya perjanjian Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) sehingga dapat mendorong industri tekstil yang menurun disepanjang 2015 kemarin.

 

Sebelumnya, Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat Usman mengatakan, potensinya jika pasar Amerika dan Uni Eropa terbuka , ekspor akan meningkat, produksi dan penyerapan tenaga kerja juga akan meningkat. Belum lagi saat ini para investor dari dalam dan luar negeri masih menunggu pengumuman perjanjian ini berlangsung.

 

“Kalau perjanjian perdagangan ini berjalan, proyeksi kita pada tahun 2025 akan meningkat hingga USD17,8 miliar. Dan tenaga kerja yang terserap mencapai 2,3 juta orang,” ucapnya.

 
		
More Latest News & Recent
MSMEs Ulos Woven Results of BI Assistance Earned IDR 1.5 Billion per Month
Revoke PERMENDAG 64/2017, Save The National TPT Industry
Potential Indramayu-Subang Area for Industrial Development
Indonesia-US Textile Trade Roadmap Needed
Stäubli Highlights Attracted Many Visitors At ITMA 2019
Latest Selling Leads
kain twill kembang 2019-03-26
Printmate 2017-10-27
Label 2017-04-07
Canvas Fabric 2016-04-29
POST   |   MORE
Latest Buying Leads
kain katun jepang 2019-03-26
Cari Kain 2019-03-26
Twill Pants 2017-04-07
All Finish Fabric 2016-03-21
POST   |   MORE
  EXPERT PERSPECTIVE
Export Perspective of Textiles Industry
Suharno
IKATSI Chairman
Export Perspective of Textiles Industry
Read more...
Advertisement
Advertisement
Advertisement
 
 | Home | About Us | Contact Us | Organization Link | Our Publication | Advertisement | Sitemap | CSR | Term & Condition  | 
Copyright © 2008, All rights reserved by CV. Gaindo Pratama Indonesia.