Advertisement Advertisement Advertisement
 
 
Lost Password?
APSyFI: The national textile industry is headed for a trade deficit, 2018 exports grow 1% and imports grow 14% (yoy).--IKATSI: The growth of the national textile industry is still hampered by floods of imports, Indonesia needs a clothing security law.


	
Product
Find millions of selling leads from around the world,now!
Featured Company
TIFICO FIBER INDONESIA PT (PT. TIFICO)
PAN ASIA, PT
SUSILIA INDAH SYNTHETIC FIBERS INDUSTRIES, PT (SULINDAFIN)
Pollyfin Canggih, PT
PT. TESTEX TESTING AND CERTIFICATION

Data & Statistic
  INDONESIA' EXPORTS / IMPORTS OF TEXTILE COMMODITIES
  Indonesia Manufacturing Export Import Data

Special Feature
  Texprocess presents ‘Digital Textile Micro Factory’ for the first time
Home arrow Latest News arrow Jakarta Concord Entrance RI Expands Export Markets


				
			
			
Jakarta Concord Entrance RI Expands Export Markets PDF Print E-mail
Written by Maizer   
Wednesday, 08 March 2017

Through the commitment of Jakarta Concord among the countries of the Indian Ocean Rim Countries Association (IORA) obstacles to increase trade is believed to be resolved. The ability of Indonesia is more qualified in the field of maritime Indonesia will facilitate the market penetration of new export destinations as confirmed by the Minister of Commerce, Enggartiasto Lukito.

 

Deputy Coordinating Ministry for Maritime Maritime Sovereignty, Arif Havas Oegroseno said, dated May 9 and 10 2017, Indonesia will host the economic conference of blue (Blue Economy). It is inseparable from the ability over Indonesia in the field of maritime recognized IORA region.

 

"Well this all will increase the penetration of Indonesia in the countries of Africa and South Asia. Profile Indonesia in the African region will increase. Thus, we can use this to Indonesia's trade penetration in Africa is lagging behind other countries, "Havas said in a statement on Wednesday (08/03/2017).

 

"We will also be proposing a network port in the Indian Ocean region, then we will no harbor there, then a new port in Kuala Tanjung, no port in Padang, the port can be a network so that the future can have a mechanism of direct access to ports in Africa, "he continued.

 

In addition to the network port on the Indian Ocean, Indonesia will also make cooperation in the field of customs throughout the Indian Ocean region. "We have come to understand the system of customs clearance in the Indian Ocean, including tariffs, we also understand later on items which could go into that area, so we could do assestment, if rates are too high we could ask for rates go down or we direct inward investment," he added.

 

Synergy between state agencies will also be made according to succeed in that goal. "The Ministry of Trade to be part of us, too, will work together with the Ministry for Maritime to determine what products we can export to countries IORA. Kemendag mapping product and any country, then the Ministry for Maritime to track. We also work together with BKPM because we also want to invest, "said Havas.

 

The bilateral talks among member states currently IORA actually been initiated by the government. A free trade agreement or free trade agreement even be one of the issues discussed at the bilateral meeting between President Joko Widodo (Jokowi) and the President of Sri Lanka Maithripala Sirisena.

 

Minister of Trade, Enggartiasto Lukita said, there are a variety of reasons Indonesia and Sri Lanka have agreed to discuss free trade agreement. One of them could push prices of goods both coming from Indonesia and vice versa.

 

Enggar said Indonesian products to Sri Lanka during this limited or not maximized due to high tariffs or duties. Though Indonesia has an advantage in commodities or goods into Sri Lanka. Some products that have entered Indonesia Sri Lanka is for the manufacture of cigarette tobacco, food, drinks, cars and much more. Indonesia's balance of trade against Sri Lanka alone recorded a surplus of up to US $ 200 million.

 

In international trade became one of the issues highlighted Indonesia is a matter of export tariffs between countries is so high. "We're the obstacle is off, for our exports are still quite high. Because we do not exist, the trade agreements between us (state IORA). For example, for automotive course we hit 20 to 40 percent of the charge, "said Enggar.

 

Jokowi will also conduct site visits to South Africa and to all Member States IORA to talk about it. The Indonesian government itself has been invited to conduct bilateral talks to increase trade relations with Tanzania, Somalia and India.

 

University of Indonesia economist, Lana Soelistianingsih said, in Jakarta Concord, blue economy concept which could be a reference to spur Indonesia to increase the added value of superior products eg fisheries and maritime products Indonesia. It also will encourage the management of natural resources efficiently through creativity and technological innovation that will attract inward investment.

 

Meanwhile, related to the Blue Economy, there are some opportunities that may be undertaken in cooperation, including fisheries and marine, marine logistics, marine technology, tourism, shipping and seafood processing industries. So far, the opportunities for cooperation in the sectors of the industry have not worked optimally.

 

Judging from the countries that joined in IORA, the toughest rival Indonesia, including for fishery products, and Martim including Malaysia, India and Singapore, which has a modern fisheries technology. Likewise, with Australia having the resources and technological advantages.

 

The trade balance between Indonesia and Australia for example, during the year 2010-2011 which had been experiencing a surplus, respectively salty

 

 

 

Jakarta Concord Pintu Masuk RI Perluas Pasar Ekspor

 

 

Lewat komitmen Jakarta Concord di antara negara-negara Asosiasi Negara Lingkar Samudera Hindia (IORA) kendala untuk meningkatkan perdagangan diyakini bisa teratasi. Kemampuan Indonesia yang lebih mumpuni di bidang kemaritiman bakal memudahkan Indonesia melakukan penetrasi pasar baru tujuan ekspor sebagaimana ditegaskan oleh Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukito.

 

Deputi Bidang Koordinasi Kedaulatan Maritim Kemenko Maritim, Arif Havas Oegroseno menuturkan, tanggal 9 dan 10 Mei 2017 nanti, Indonesia juga akan menjadi tuan rumah Konferensi ekonomi biru (Blue Economy). Hal ini tak terlepas dari kemampuan lebih Indonesia di bidang kemaritiman yang diakui di kawasan IORA.

 

“Nah ini semua akan meningkatkan penetrasi Indonesia di negara-negara Afrika dan Asia Selatan. Profil Indonesia di kawasan Afrika akan semakin meningkat. Sehingga, kita bisa menggunakan ini untuk penetrasi perdagangan Indonesia di Afrika yang masih ketinggalan dengan negara lain,” kata Havas dalam keterangan tertulisnya, Rabu (8/3/2017).

 

“Kita juga akan mengusulkan suatu jaringan pelabuhan di kawasan Samudra Hindia, nanti kita akan ada pelabuhan di sana, nanti pelabuhan baru di Kuala Tanjung, ada pelabuhan di Padang, pelabuhan yang bisa bisa network sehingga nanti bisa punya mekanisme akses langsung ke pelabuhan-pelabuhan di Afrika,” lanjutnya.

 

Selain jaringan pelabuhan di Samudra Hindia, Indonesia juga akan membuat kerjasama di bidang kepabeanan di seluruh kawasan Samudra Hindia. “Kita jadi mengerti sistem bea cukai di Samudra Hindia, termasuk tarifnya, kita juga mengerti nanti barang-barang mana bisa masuk ke kawasan itu, sehingga kita bisa melakukan assestment, kalau tarif terlalu tinggi kita bisa minta tarif turun atau kita langsung masuk investasi,” imbuhnya.

 

Sinergitas antar lembaga negara menurutnya juga akan dilakukan untuk mensukseskan tujuan tersebut. “Kementerian Perdagangan menjadi bagian dari kita juga, akan bersinergi dengan Kemenko Maritim untuk menentukan produk apa kita bisa ekspor ke negara IORA. Kemendag melakukan pemetaan produk dan negara mana saja, kemudian Kemenko Maritim untuk jalurnya. Kita juga bersinergi dengan BKPM karena kita juga ingin melakukan investasi,” ucap Havas.

 

Pembicaraan bilateral antar negara anggota IORA saat ini sejatinya sudah dimulai pemerintah. Perjanjian perdagangan bebas atau free trade agreement bahkan menjadi salah satu hal yang dibahas dalam pertemuan bilateral antara Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Presiden Sri Lanka Maithripala Sirisena.

 

Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita mengatakan, ada berbagai alasan Indonesia dan Sri Lanka bersepakat membahas free trade agreement. Salah satunya bisa menekan harga barang baik yang masuk dari Indonesia maupun sebaliknya.

 

Enggar menuturkan, produk Indonesia ke Sri Lanka selama ini terbatas atau belum maksimal karena tarif atau bea yang tinggi. Padahal Indonesia memiliki keunggulan dalam komoditas atau barang yang masuk Sri Lanka. Beberapa produk Indonesia yang telah masuk Sri Langka adalah tembakau untuk pembuatan rokok, makanan, minuman, mobil dan masih banyak lagi. Neraca dagang Indonesia terhadap Sri Lanka sendiri tercatat surplus hingga US$ 200 juta.

 

Dalam perdagangan internasional salah satu yang menjadi isu yang disoroti Indonesia adalah soal tarif ekspor antar negara yang begitu tinggi. “Kita itu hambatannya adalah untuk tarif, untuk ekspor kita yang masih cukup tinggi. Karena memang kita tidak ada, perjanjian perdagangan di antara kita (negara IORA). Misalnya untuk otomotif saja kita kena 20 hingga 40 persen tarifnya,” tutur Enggar.

 

Jokowi juga akan melakukan kunjungan langsung ke Afrika Selatan dan ke seluruh negara Anggota IORA untuk membicarakan hal tersebut. Pemerintah Indonesia sendiri sudah diundang melakukan pembicaraan bilateral untuk peningkatan hubungan dagang dengan Tanzania, Somalia dan India.

 

Ekonom Universitas Indonesia, Lana Soelistianingsih menuturkan, dalam Jakarta Concord, konsep blue economy yang bisa menjadi acuan untuk memacu Indonesia meningkatkan nilai tambah produk-produk unggulan misalnya produk perikanan dan maritim Indonesia. Hal ini juga akan mendorong pengelolaan sumber daya alam secara efisien melalui kreativitas dan inovasi teknologi yang bakal menarik investasi masuk.

 

Sementara itu, terkait Blue Economy, ada beberapa peluang yang dapat dikerjasamakan, di antaranya perikanan dan kelautan, logistik kelautan, teknologi kelautan, pariwisata, perkapalan dan industri pengolahan hasil laut. Sejauh ini, peluang kerjasama di sektor-sektor industri tersebut memang belum digarap dengan optimal.

 

Dilihat dari negara-negara yang tergabung di IORA, saingan terberat Indonesia, termasuk untuk produk perikanan dan martim di antaranya Malaysia, India dan Singapura yang memiliki teknologi perikanan yang modern. Begitu juga, dengan Australia yang memiliki sumber daya dan keunggulan teknologi.

 

Neraca perdagangan Indonesia dengan Australia contohnya, selama tahun 2010-2011 memang sempat mengalami surplus, masing-masing US$ 145,3 juta dan US$ 405,4 juta. Namun, selama tahun 2012-2015, neraca perdagangan Indonesia dengan Australia justru terus mengalami defisit dari US$ 392,2 juta sampai US$ 1,1 miliar di 2015.

 

Berdasarkan data UN Comtrade, terlihat beberapa tahun terakhir untuk sejumlah komoditas pangan utama Indonesia masih lebih banyak melakukan impor dari Australia seperti daging, gula dan garam. Begitu juga, dengan komoditas tekstil dan produk tekstil seperti katun dan sutera.

 

Dengan sejumlah kesepakatan di IORA, Indonesia bisa melebarkan sayap perdagangan ke sejumlah negara di Afrika yang masih memiliki daya beli seperti Afrika Selatan dan memperbaiki neraca perdagangan secara umum.

 
		
More Latest News & Recent
Difficulties in Textile Raw Materials
Government Strategy to Increase Textile Industry Production
Clothing Sales in Ramadan Increase 20% But Majority from China
The Textile Industry in Ramadhan This Tends Decline 40%
The Textile Association Feel the Impact of China-American Trade War
Latest Selling Leads
kain twill kembang 2019-03-26
Printmate 2017-10-27
Label 2017-04-07
Canvas Fabric 2016-04-29
POST   |   MORE
Latest Buying Leads
kain katun jepang 2019-03-26
Cari Kain 2019-03-26
Twill Pants 2017-04-07
All Finish Fabric 2016-03-21
POST   |   MORE
  EXPERT PERSPECTIVE
Export Perspective of Textiles Industry
Suharno
IKATSI Chairman
Export Perspective of Textiles Industry
Read more...
Advertisement
Advertisement
Advertisement
 
 | Home | About Us | Contact Us | Organization Link | Our Publication | Advertisement | Sitemap | CSR | Term & Condition  | 
Copyright © 2008, All rights reserved by CV. Gaindo Pratama Indonesia.