The Rise of Textiles
Written by Maizer   
Thursday, 04 January 2018

After exports of textiles and textile products (TPT) peaked in 2011 with a value of US $ 13.2 billion, its performance continued to decline and slumped in 2016 with export value of only US $ 11.87 billion. However, this year TPT exports again rose, breaking through US $ 12.4 billion.

 

 

The increase was supported by increased demand from Asean, Japan, China, and the United States (US), as well as due to the factor of improving the quality of national textile products.

 

 

 

This revival of textile exports must be maintained because it is a leading sector of foreign exchange earners and many employment absorbers. The textile industry entered the top four major manufacturing sub-sectors. Out of a total of 17 million workers, TPT industry is ranked third with 2.7 million people, under 3.3 million people and automotive 3 million people.

 

 

 

In addition to exports, the domestic TPT market is also increasingly potential, moreover the political year and the 2018 Asian Games event. The political year with 171 local elections will simultaneously boost the significant textile demand for the regional head candidate campaign.

 

 

 

With this huge potential, TPT industry can increase its domestic market share to above 30%. In recent years the domestic market share of the textile industry has fallen below 30%, due to intense competition with imported products, especially from China.

 

 

 

In addition, industry players must compete with illegal imports that remain rampant. Nevertheless, the TPT industry that has been the backbone of exports in decades now faces many challenges. In terms of export markets, our textiles are increasingly less competitive with Vietnam as the main competitor in penetrating EU market.

 

 

 

Therefore, Vietnam this year has received preferential tariff 0%, while Indonesian products are still subject to import tariffs 11-17% by the European Union. If there is no innovation and improving the competitiveness of Indonesian textile products, exports to the European Union could fall by 2-3%. Vietnam has now become a textile giant with an average annual export of US $ 20 billion.

 

 

 

Indonesia is not only less competitive because Vietnam has established FTA with EU, but because the production cost of TPT industry in the country is still higher than Vietnam. Although labor costs are relatively similar, electricity tariffs and other production costs of TPT in Vietnam are also cheaper. That is why, entrepreneurs who are members of the Indonesian Textile Association (TPT) urged the government to establish free trade (free trade agreement / FTA) with the European Union, as one of the main export markets. The move can be accelerated after the end of last year Indonesia successfully completed the FTA with Chile.

 

 

 

Currently, the government is also focusing on discussing FTA with Australia. Another challenge facing the national textile industry is that the majority of aging machinery conditions, especially in the weaving and knitting industries. Ironically, banks are still reluctant to finance the textile industry because it considers this sector is already sunset. In fact, the textile industry is still very prospective and the demand is very large.

 

 

 

In this context, the national textile industry needs to update its machinery technology. In addition, the government needs to bridge the funding difficulties associated with the restructuring of machinery. Another step for the national textile industry to grow is investment. Currently, the investment of the textile sector is still minimal.

 

 

 

Now is a good time to encourage investment in the textile industry. If investments are not made within the next five years, the national textile industry will be difficult to compete with major competitor countries such as India, China, Vietnam and Bangladesh.

 

 

 

In that context, the government needs to spawn specific regulations that can encourage export-oriented labor intensive industries, including textile and textile products. In it will set about fiscal incentives, nonfiscal, ease of licensing, and other facilities.

 

 

 

Another strategy to strengthen the textile industry base is to formulate a roadmap of the national textile industry integrated from upstream to downstream. Here we need to design what will be our seed and where the direction of the national textile industry.

 

 

 

The above steps are believed to encourage the revival of the national textile industry as a major contributor to foreign exchange and massive employment. All parties need to believe that the textile industry is not a sunset industry category but still has high competitiveness in the country.

 

 

Kebangkitan Tekstil

 

Setelah ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT) mencapai puncak pada 2011 dengan nilai US$ 13,2 miliar, performanya terus menurun dan terpuruk pada 2016 dengan nilai ekspor hanya sebesar US$ 11,87 miliar. Namun, tahun ini ekspor TPT kembali bangkit, menembus US$ 12,4 miliar.

 

 

 

Kenaikan tersebut ditopang oleh peningkatan permintaan dari Asean, Jepang, Tiongkok, dan Amerika Serikat (AS), di samping juga karena faktor peningkatan kualitas produk TPT nasional.

 

 

 

Kebangkitan ekspor tekstil ini harus dijaga karena merupakan sektor unggulan penghasil devisa  dan penyerap banyak tenaga kerja. Industri TPT masuk empat besar subsektor manufaktur penyerap tenaga kerja terbesar. Dari total tenaga kerja manufaktur sebanyak 17 juta orang, industri TPT berada di peringkat tiga dengan serapan 2,7 juta orang, di bawah makanan dan minuman (mamin) olahan sebanyak 3,3 juta orang dan otomotif 3 juta orang.

 

 

 

Selain ekspor, pasar TPT domestik juga semakin potensial, terlebih lagi adanya tahun politik dan perhelatan Asian Games 2018. Tahun politik dengan 171 pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak akan mendorong kenaikan kebutuhan tekstil yang signifikan untuk kampanye calon kepala daerah.

 

 

 

Dengan potensi besar ini, industry TPT dapat menaikkan pangsa pasar di dalam negeri menjadi di atas 30%. Dalam beberapa tahun belakangan pangsa pasar domestik industri TPT merosot hingga di bawah 30%, akibat persaingan ketat dengan produk impor, terutama asal Tiongkok.

 

 

 

Selain itu, pelaku industri pun harus bersaing dengan impor ilegal yang tetap marak terjadi. Namun demikian, industri TPT yang telah menjadi tulang punggung ekspor dalam beberapa dekade kini menghadapi berbagai tantangan. Dari sisi pasar ekspor, tekstil kita semakin kalah bersaing dengan Vietnam selaku kompetitor utama dalam menembus pasar Uni Eropa.

 

 

 

Sebab, Vietnam tahun ini sudah mendapatkan preferensi tarif 0%, sementara produk Indonesia masih dikenakan tarif bea masuk 11-17% oleh Uni Eropa. Apabila tidak ada inovasi dan perbaikan daya saing produk TPT Indonesia, ekspor ke Uni Eropa bisa turun 2-3%. Vietnam kini telah menjadi raksasa tekstil dengan rata-rata ekspor tahunan mencapai US$ 20 miliar.

 

 

 

Indonesia bukan hanya kalah bersaing karena Vietnam telah menjalin FTA dengan Uni Eropa, tapi lantaran biaya produksi industry TPT di dalam negeri masih lebih tinggi dibandingkan Vietnam. Meskipun biaya tenaga kerja relative sama, tarif listrik dan biaya-biaya produksi TPT lainnya di Vietnam juga lebih murah. Itulah sebabnya, pengusaha yang tergabung dalam Asosiasi Pertekstilan Indonesia (TPT) mendesak pemerintah untuk menjalin perdagangan bebas (free trade agreement/ FTA) dengan Uni Eropa, sebagai salah satu pasar ekspor utama. Langkah itu bisa dikebut setelah akhir tahun lalu Indonesia sukses merampungkan FTA dengan Chile.

 

 

 

Saat ini, pemerintah juga fokus membahas FTA dengan Australia. Tantangan lain yang dihadapi industri tekstil nasional adalah kondisi permesinan yang mayoritas usianya sudah tua, terutama pada industri pertenunan dan perajutan. Ironisnya, perbankan masih enggan membiayai industri tekstil karena menganggap sektor ini sudah sunset. Padahal, industry tekstil masih sangat prospektif dan permintaannya sangat besar.

 

 

 

Dalam konteks ini, industri tekstil nasional perlu meng-update teknologi permesinannya. Selain itu, pemerintah perlu menjembatani kesulitan pendanaan terkait restrukturisasi mesin. Langkah lain agar industri tekstil nasional semakin berkembang adalah investasi. Belakangan ini, investasi sektor tekstil masih minim.

 

 

 

Sekarang adalah saat tepat untuk mendorong investasi industri tekstil. Apabila investasi tidak dilakukan dalam waktu lima tahun ke depan, industri tekstil nasional bakal sulit bersaing dengan negara competitor utama seperti India, Tiongkok, Vietnam, dan Bangladesh.

 

 

 

Dalam konteks itu, pemerintah perlu menelurkan regulasi khusus yang dapat mendorong industri padat karya berorientasi ekspor, termasuk industri tekstil dan produk tekstil. Di dalamnya akan mengatur tentang insentif fiskal, nonfiskal, kemudahan perizinan, dan fasilitas lainnya.

 

 

 

Strategi lain untuk memperkuat basis industri tekstil adalah menyusun peta jalan (roadmap) tentang industri TPT nasional yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Di sini perlu didesain apa saja yang bakal menjadi unggulan kita dan ke mana arah industri tekstil nasional.

 

 

 

Berbagai langkah di atas diyakini akan mendorong kebangkitan industri tekstil nasional sebagai penyumbang devisa negara utama dan penyerap tenaga kerja yang masif. Semua pihak perlu meyakini bahwa industri tekstil bukan kategori industri sunset tapi tetap memiliki daya saing tinggi di negeri ini.

 
		
More Latest News & Recent
Africa & Bangladesh Strengthen Textile Sector, RI Must Prepare
Textile Exports Up 4.4% to Reach US $ 12.4 Billion
High Export Tariff, Indonesia Holds Trade Negotiations with Turkey
Place of Textile Tourism
Face of the Election of Textile Demand will Increase