High Silk Supplies, Indonesia Now Rely on Japan's Imports
Written by Maizer   
Friday, 27 April 2018

Indonesia-Japan bilateral relationship has entered the age of 60 years. Both countries continue to optimize cooperation in the trade sector. And one of them through the ease of imported raw materials cupro fiber as an alternative to silk thread.

 

Fitriani Kuroda, President Director of PT Milangkori Persada as the official importer and official supplier of Japanese cupro fiber, said Indonesia's great dependence on China in supplying raw materials of silk yarn is considered to contribute to batik and woven craftsmen who have been relying on the material for production process.

 

"Cupro Fiber is present as an alternative to silk thread for craftsmen whose prices are now soaring and in the range of Rp 1.3 million per kilogram, while cupro fiber is only Rp 400 thousand per kilogram. In addition, silk material produced cool and cool to wear, "he said in the event Inacraft 2018.

 

He said, as for the Japanese company that exports cupro fiber is Asahi Kasei Corporation. Cupro fibers are short fibers that stick to the cottonseed, then with Japanese technology processed into yarn.

 

 "Therefore, we hope through this exhibition textile companies in Indonesia can use and process into textile and textile products," he explained. It also aims to import 100 tonnes of Cupro fiber from Japan.

 

So far the cupro fiber from Asahi that has been spun into bemberg thread has also been used for 50 years in India to make traditional Sari outfits for women and turbans for men.

 

"While in Indonesia should only be used for batik, stamp and woven or traditional motifs, should not be for mass tonnes like that," he said.

 

Cupro itself has many advantages that can be equated with the quality of silk. The color of the yarn becomes shimmering and impressive the product becomes elevated, has a glamorous impression. But more than that, as a thread for the arts and crafts world more affordable price for the craftsmen.

 

 

 

 

Kebutuhan Sutera Tinggi, Indonesia Kini Andalkan Impor Jepang

 

 

 

Hubungan bilateral Indonesia-Jepang telah memasuki usia ke -60 tahun. Kedua negara tersebut terus mengoptimalkan kerjasama di sektor perdagangan. Dan salah satunya melalui kemudahan bahan baku impor serat cupro sebagai alternatif pengganti benang sutera.

 

 

Fitriani Kuroda, Presiden Dirketur dari PT Milangkori Persada selaku importir resmi dan supplier resmi dari serat cupro Jepang mengatakan, ketergantungan besar Indonesia terhadap China dalam penyediaan bahan baku benang sutera dinilai turut berimbas pada perajin batik dan tenun yang selama ini mengandalkan bahan itu untuk proses produksi.

 

“Serat Cupro hadir menjadi alternative pengganti benang sutera bagi perajin yang harganya kini melambung dan di kisaran Rp 1,3 juta per kilogram, sementara serat cupro hanya Rp 400 ribu per kilogram. Selain itu bahan sutera yang dihasilkan dingin dan sejuk dipakai,” kata dia di ajang Inacraft 2018 .

 

Ia mengatakan, adapun perusahaan Jepang yang mengekspor serat cupro adalah Asahi Kasei Corporation. Serat Cupro ialah serat pendek yang menempel yang dibiji kapas, kemudian dengan teknologi Jepang diolah menjadi benang.

 

 “Karena itu kita melalui pameran ini berharap perusahaan-perusahaan tekstil di Indonesia bisa memakai dan mengolah menjadi tekstil dan produk tekstil,” jelas dia. Pihaknya juga menargetkan bisa mengimpor 100 ton serat Cupro dari Jepang.

 

Selama ini serat cupro dari Asahi yang telah dipintal jadi benang bemberg juga telah digunakan selama 50 tahun di India untuk membuat pakaian tradisional Sari untuk wanita dan turban untuk laki-lakinya.

 

“Sedangkan di Indonesia hanya boleh digunakan untuk batik tulis, cap dan tenun atau motif tradisi, tidak boleh untuk massal berton-ton seperti itu,” ujarnya.

 

Cupro sendiri memiliki berbagai keunggulan sehingga bisa disejajarkan kualitas sutera. Warna benang menjadi berkilau dan mengesankan produk menjadi terangkat, memiliki kesan glamor.  Namun lebih dari itu, sebagai benang untuk dunia seni dan kerajinan harganya lebih terjangkau bagi kalangan perajin.

 
		
More Latest News & Recent
Minister of Trade: Textile Exports Can Recover Trade Balance
Textile and textile products entrepreneurs are optimistic that the export target will be exceeded
The prospect of textile issuers depends on the realization of government policies
APSyFI: Garment imports are booming, domestic textile factory utilization is only 55%
Loepfe Brothers Ltd. at ITMA Asia + CITME 2018