Print

Konflik yang terus berlangsung di kawasan Timur Tengah antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran mulai menimbulkan efek domino terhadap berbagai sektor industri global, termasuk industri tekstil di Indonesia. Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) mengungkapkan bahwa dampak dari ketegangan geopolitik tersebut kini mulai terasa, terutama pada kenaikan harga bahan baku utama tekstil berbasis poliester.

Government Relations API, Geraldi Halomoan, menjelaskan bahwa poliester merupakan salah satu bahan baku penting dalam industri tekstil yang berasal dari turunan minyak bumi. Ketika harga minyak dunia mengalami kenaikan akibat konflik geopolitik, maka secara langsung harga bahan baku poliester juga ikut terdongkrak. Kondisi ini menjadi tantangan besar bagi pelaku industri tekstil yang selama ini sangat bergantung pada kestabilan harga bahan baku.

Ia menambahkan bahwa kebutuhan poliester di dalam negeri sangat tinggi, mengingat sebagian besar produk tekstil menggunakan bahan tersebut, baik secara murni maupun campuran dengan bahan lain seperti kapas atau rayon. Tingginya permintaan ini membuat industri semakin rentan terhadap fluktuasi harga bahan baku di pasar global.

Kenaikan harga tidak hanya terjadi pada poliester secara umum, tetapi juga pada komponen turunannya seperti paraxylene (PX), polyethylene terephthalate (PET), dan monoethylene glycol (MEG). Ketiga bahan tersebut merupakan elemen penting dalam proses produksi tekstil, sehingga lonjakan harga pada salah satunya saja sudah cukup berdampak pada keseluruhan biaya produksi.

Selain tekanan dari sisi bahan baku, pelaku usaha tekstil juga dihadapkan pada potensi kenaikan biaya logistik. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya harga bahan bakar minyak (BBM) yang turut dipengaruhi oleh kondisi geopolitik global. Biaya distribusi yang semakin tinggi berpotensi mengganggu kinerja operasional dan menurunkan produktivitas industri tekstil secara keseluruhan.

Dengan situasi yang tidak menentu ini, pelaku industri tekstil di Indonesia dihadapkan pada tantangan besar untuk menjaga stabilitas usaha. Kenaikan biaya produksi dan distribusi berisiko menekan margin keuntungan, bahkan dapat berdampak pada daya saing produk di pasar domestik maupun internasional.