Print

Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) Indonesia tengah menghadapi tekanan serius akibat lonjakan harga bahan baku utama dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran akan penurunan utilisasi produksi, baik di sektor hulu maupun hilir, seiring meningkatnya beban biaya yang harus ditanggung pelaku industri.

Ketua Umum Asosiasi Produsen Benang dan Filamen Indonesia (APSyFI), Redma Gita Wirawasta, mengungkapkan bahwa kenaikan signifikan terjadi pada sejumlah bahan baku utama seperti paraxylene (PX), purified terephthalic acid (PTA), dan monoethylene glycol (MEG). Lonjakan harga ketiga komponen tersebut bahkan mencapai sekitar 40%, yang secara langsung mendorong kenaikan harga produk berbasis poliester dalam persentase yang serupa. Sementara itu, kenaikan harga pada bahan berbasis rayon relatif lebih terbatas karena hanya dipengaruhi oleh satu komponen utama.

Tekanan terhadap industri tidak hanya berasal dari sisi bahan baku, tetapi juga dari biaya logistik yang semakin meningkat. Kenaikan biaya pengiriman, terutama pada aspek asuransi, turut mempersempit ruang gerak pelaku usaha dalam menjaga efisiensi operasional. Kombinasi antara mahalnya bahan baku dan tingginya biaya distribusi membuat kondisi industri semakin terjepit.

Dari sisi pasokan, APSyFI menyebut ketersediaan bahan baku masih relatif aman hingga April 2026. Hal ini didukung oleh jaminan suplai dari Pertamina, khususnya untuk bahan baku PX yang menjadi komponen penting dalam produksi poliester. Meski demikian, stabilitas pasokan saja dinilai belum cukup untuk meredam tekanan yang ada, mengingat kenaikan harga tetap menjadi tantangan utama.

Lebih lanjut, tidak semua pelaku industri mampu menyerap lonjakan biaya tersebut. Daya beli pasar yang terbatas berpotensi menyebabkan penurunan produksi dalam waktu dekat. Jika kondisi ini terus berlanjut, utilisasi industri tekstil diperkirakan akan kembali mengalami penurunan.

Untuk mengantisipasi dampak yang lebih dalam, pelaku industri menekankan pentingnya kepastian pasokan bahan baku dalam jangka panjang. Selain itu, dukungan kebijakan dari pemerintah juga dinilai krusial, terutama melalui pemberian insentif fiskal seperti pemotongan atau penanggungan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) untuk bahan baku dalam negeri guna meringankan beban biaya produksi.

Sebelumnya, Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) juga menyoroti kenaikan harga bahan baku poliester yang merupakan turunan minyak bumi. Kenaikan ini dipicu oleh dinamika geopolitik, khususnya konflik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Situasi tersebut berdampak langsung pada harga komoditas energi global yang menjadi dasar produksi bahan baku tekstil.

Perwakilan API, Geraldi Halomoan, menyampaikan bahwa kenaikan harga bahan baku seperti PX, PET, dan MEG juga dipengaruhi oleh tingginya permintaan domestik. Ia menambahkan bahwa mayoritas produk pakaian di Indonesia menggunakan campuran poliester dengan kapas atau rayon, sehingga kenaikan harga bahan baku tersebut berdampak luas pada industri.

Selain itu, kekhawatiran pelaku usaha juga meningkat akibat potensi kenaikan biaya energi dan logistik sebagai dampak lanjutan dari konflik global. Ancaman terhadap pasokan bahan bakar minyak dinilai dapat memengaruhi kinerja serta produktivitas industri tekstil nasional secara keseluruhan.

Dengan berbagai tekanan yang terjadi, industri tekstil Indonesia kini berada dalam posisi yang semakin rentan. Tanpa intervensi kebijakan yang tepat dan stabilitas pasokan yang terjaga, penurunan produksi berpotensi menjadi tantangan nyata yang harus dihadapi dalam waktu dekat.