Industri kreatif berbasis budaya kembali menunjukkan geliatnya. Kali ini, UMKM Jegeg Tri Busana dari Bali siap meramaikan ajang Persit Bisa 2 yang akan berlangsung di Jakarta pada 7–9 Mei 2026. Partisipasi ini menjadi langkah nyata dalam membawa wastra tradisional Bali ke tingkat nasional sekaligus memperkuat eksistensi industri tekstil lokal.

Memanasnya konflik di kawasan Timur Tengah membawa dampak berantai terhadap berbagai sektor industri global, termasuk industri tekstil di Indonesia. Ketidakpastian geopolitik yang terjadi turut memengaruhi stabilitas pasokan bahan baku serta mendorong kenaikan biaya produksi. Dalam situasi ini, pelaku usaha tekstil mulai mengalihkan strategi dengan memfokuskan target pasar ke dalam negeri sebagai langkah bertahan.

Pasar hijab, busana muslim, dan batik yang terus berkembang pesat menjadi pendorong utama pertumbuhan industri printing dan tekstil di Indonesia. Permintaan yang tinggi tidak hanya mencerminkan kekuatan pasar domestik, tetapi juga membuka peluang besar bagi pengembangan industri berbasis teknologi cetak tekstil.

Menjelang pemberlakuan kewajiban sertifikasi halal pada 18 Oktober 2026 untuk produk obat-obatan, kosmetik, dan barang gunaan, pemerintah melalui Kementerian Perindustrian terus mempercepat kesiapan industri nasional. Langkah ini difokuskan pada penguatan ekosistem halal yang terintegrasi dari hulu hingga hilir guna memastikan daya saing industri Indonesia di pasar global semakin meningkat.

Pelaku industri tekstil nasional mulai mengalihkan fokus ke pasar domestik sebagai langkah adaptif menghadapi tekanan global yang kian meningkat. Ketidakpastian pasokan bahan baku serta lonjakan biaya produksi mendorong perusahaan untuk menyesuaikan strategi bisnis demi menjaga keberlangsungan usaha.