Rencana pemerintah memberikan fasilitas kredit berbunga rendah sebesar 6 persen untuk program peremajaan mesin disambut positif oleh pelaku industri tekstil dan alas kaki nasional. Kebijakan tersebut dinilai dapat menjadi dorongan penting bagi industri padat karya untuk meningkatkan efisiensi produksi, produktivitas, hingga daya saing di tengah tekanan produk impor dan kondisi pasar global yang menantang.
Pelemahan nilai tukar rupiah kembali memberi tekanan terhadap industri tekstil nasional. Kondisi tersebut dirasakan langsung oleh perusahaan-perusahaan sektor hulu tekstil yang kini menghadapi peningkatan biaya produksi akibat tingginya ketergantungan terhadap bahan baku impor.
Masuknya kain impor asal China secara masif ke pasar domestik semakin menekan keberlangsungan industri tekstil nasional. Kondisi ini turut dirasakan oleh pelaku industri di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Salah satu perusahaan tekstil di wilayah tersebut, PT Delta Merlin Sandang Tekstil (DMST) 1, bahkan terpaksa melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap sekitar 60 persen pekerjanya akibat kalah bersaing dengan produk impor yang lebih murah.
Meningkatnya konsumsi pakaian dinilai menjadi salah satu penyebab melonjaknya limbah tekstil yang kini mulai mengancam kelestarian lingkungan. Kesadaran untuk membeli pakaian sesuai kebutuhan pun dinilai penting guna menekan penumpukan sampah tekstil yang sulit didaur ulang.
Industri tekstil nasional kembali menghadapi tekanan berat akibat membanjirnya kain impor asal Tiongkok di pasar domestik. Produk impor dengan harga jauh lebih murah membuat industri lokal kesulitan bersaing, baik dari sisi biaya produksi maupun teknologi, sehingga sejumlah perusahaan terpaksa melakukan efisiensi besar-besaran hingga pemutusan hubungan kerja (PHK).
Page 1 of 163