Pemerintah menilai industri tekstil Indonesia masih memiliki daya tarik yang kuat bagi investor global meskipun dunia tengah menghadapi berbagai tantangan ekonomi dan geopolitik. Optimisme tersebut disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto yang menegaskan bahwa sektor tekstil nasional tetap stabil dan menunjukkan prospek yang menjanjikan di mata pelaku industri internasional.

Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, khususnya konflik yang melibatkan Iran, mulai menimbulkan kekhawatiran bagi industri tekstil nasional. Pelaku usaha menilai situasi tersebut berpotensi memicu kenaikan biaya produksi akibat terganggunya rantai pasok bahan baku serta meningkatnya biaya logistik. Oleh karena itu, kalangan industri mendorong pemerintah untuk menyiapkan berbagai stimulus guna menjaga keberlangsungan produksi dan daya saing sektor tekstil dalam negeri.

Ketegangan geopolitik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel kembali memicu kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi global. Konflik di kawasan Timur Tengah tidak hanya berdampak pada sektor energi dan keuangan, tetapi juga berpotensi menekan industri manufaktur padat energi, termasuk tekstil, melalui kenaikan harga minyak dan gangguan rantai pasok internasional.

Komitmen pemerintah dalam memperkuat daya saing industri nasional kembali ditunjukkan melalui langkah strategis Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Melalui Kantor Wilayah Bea Cukai Banten, dua perusahaan di sektor perikanan dan tekstil resmi memperoleh izin fasilitas kawasan berikat sebagai bagian dari upaya mendorong peningkatan ekspor dan investasi.

Jakarta kembali dikejutkan dengan temuan transaksi mencurigakan bernilai jumbo. Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) mengungkap dugaan penyembunyian omzet ilegal sebesar Rp12,49 triliun yang dialirkan melalui rekening karyawan maupun rekening pribadi.