Industri fesyen global tengah menghadapi tantangan besar akibat meningkatnya produksi pakaian dan pola konsumsi masyarakat yang semakin cepat. Dalam 15 tahun terakhir, produksi tekstil meningkat berlipat ganda dan menghasilkan sekitar 92 juta ton limbah setiap tahun. Kondisi ini tidak terlepas dari berkembangnya tren fast fashion yang menawarkan pakaian dengan harga murah dan pergantian model dalam waktu singkat, tetapi menyisakan persoalan lingkungan yang semakin kompleks.

Pakaian bekas yang selama ini dianggap tidak lagi memiliki nilai guna ternyata dapat menjadi sumber penghasilan jika diolah secara kreatif. Hal tersebut dibuktikan melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Tangan Kedua yang dijalankan PT Patra Drilling Contractor (PDC) dengan melibatkan delapan perempuan penerima manfaat di wilayah Duren Sawit, Jakarta Timur. Sejak Juni hingga Oktober 2026, produk hasil olahan pakaian bekas dari program tersebut berhasil membukukan total penjualan mencapai Rp61 juta.

Menteri Keuangan Suahasil Nazara menginstruksikan Direktorat Jenderal Pajak (DJP) untuk segera menuntaskan pengembalian kelebihan pembayaran pajak atau restitusi. Percepatan tersebut terutama ditujukan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta industri padat karya, termasuk sektor tekstil, alas kaki, dan elektronik.

Semangat keberlanjutan turut mewarnai penyelenggaraan Jakarta Running Festival (JRF) 2026. Di tengah kemeriahan acara yang berlangsung di Istora Senayan pada 22 Oktober 2026, sebuah inisiatif pengumpulan jersey bekas layak pakai menarik perhatian pengunjung. Melalui program Jersey Collection Donation Box, masyarakat diajak memperpanjang masa guna pakaian sekaligus mengurangi limbah tekstil.