Industri tekstil nasional masih beroperasi di bawah kapasitas normal di tengah permintaan yang belum sepenuhnya pulih. Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) mencatat rata-rata utilisasi produksi industri tekstil saat ini baru mencapai sekitar 60%-70%.

Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) Jawa Barat tengah menghadapi sejumlah tekanan, mulai dari persaingan dengan negara seperti Vietnam dan Bangladesh, kenaikan biaya produksi, hingga perlambatan pertumbuhan bisnis printing. Kondisi tersebut membuat pelaku usaha semakin selektif dalam membaca peluang pasar.

Gelaran Pameran Intertextile Shanghai Apparel Fabrics - Autumn Edition 2026 resmi ditutup kemarin di National Exhibition and Convention Center (NECC), Shanghai. Selama 3 hari, 25-27 Agustus 2026, pameran tekstil terbesar di Asia pusat pameran dipadati buyer dan pemasok dari berbagai negara. Tren utama yang paling banyak dicari pengunjung adalah kain fungsional, material berkelanjutan, dan teknologi digital. Area Econogy Hub dipenuhi pemasok bahan ramah lingkungan. Sementara di zona inovasi, banyak ditampilkan kain dengan teknologi terbaru yang bisa menyesuaikan dengan cuaca dan ketahanan terhadap air.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mempercepat industrialisasi nasional untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkualitas, menciptakan lapangan kerja, memperkuat kemandirian ekonomi, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Langkah tersebut sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto dalam Pidato Presiden RI pada Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI-DPD RI Tahun 2026.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong penguatan daya saing industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional agar mampu menghadapi persaingan pasar global. Industri TPT dinilai masih memiliki prospek pertumbuhan yang besar, terutama karena perannya sebagai sektor padat karya sekaligus salah satu kontributor ekspor Indonesia.