Ketergantungan ekspor kawasan Ciayumajakuning terhadap pasar Amerika Serikat dinilai mulai menjadi ancaman bagi stabilitas industri regional di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global. Kondisi tersebut mendorong perlunya diversifikasi pasar ekspor serta penguatan hilirisasi industri agar pertumbuhan ekonomi kawasan Rebana tetap terjaga secara berkelanjutan.
Wakil Ketua Komisi VII DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Evita Nursanty, menyoroti berbagai persoalan yang masih membebani industri tekstil nasional. Menurutnya, rendahnya daya saing industri tidak hanya dipengaruhi oleh ketersediaan tenaga kerja terampil, tetapi juga iklim usaha yang dinilai belum kondusif.
Industri tekstil nasional masih menghadapi tekanan berat dalam beberapa tahun terakhir. Penurunan kapasitas produksi hingga banyaknya pabrik yang tutup membuat sektor ini dihantam gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) massal. Di tengah kondisi tersebut, pelaku industri mulai mencari berbagai cara untuk menekan biaya operasional agar bisnis tetap berjalan.
Pemerintah menargetkan nilai ekspor Indonesia ke Kanada dapat meningkat hingga dua kali lipat dalam dua tahun setelah implementasi Indonesia-Canada Comprehensive Economic Partnership Agreement (ICA-CEPA). Perjanjian dagang tersebut dinilai menjadi langkah strategis untuk memperluas pasar ekspor nasional di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali menjadi tekanan berat bagi industri kecil dan menengah tekstil serta produk tekstil (IKM TPT). Kondisi tersebut dirasakan langsung oleh para pelaku usaha konveksi yang masih bergantung pada bahan baku impor untuk menjaga keberlangsungan produksi.
Page 1 of 2