Nilai tukar rupiah masih mengalami tekanan hingga Kamis (21/5/2026). Berdasarkan data Refinitiv, rupiah dibuka di level Rp17.600 per dolar AS atau stagnan dibanding penutupan perdagangan sebelumnya. Namun pada pukul 11.01 WIB, rupiah kembali melemah sekitar 0,31% ke posisi Rp17.655 per dolar AS.
Nilai tukar rupiah masih berada dalam tren pelemahan hingga Kamis (21/5/2026). Berdasarkan data perdagangan, rupiah sempat berada di level Rp17.600 per dolar AS pada pembukaan pasar pagi dan kembali melemah sekitar 0,31% ke posisi Rp17.655 per dolar AS pada pukul 11.01 WIB. Kondisi ini terjadi di tengah langkah Bank Indonesia (BI) yang sebelumnya menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin menjadi 5,25%.
Pemerintah menargetkan nilai ekspor Indonesia ke Kanada dapat meningkat hingga dua kali lipat dalam dua tahun setelah implementasi Indonesia-Canada Comprehensive Economic Partnership Agreement (ICA-CEPA). Perjanjian dagang tersebut dinilai menjadi langkah strategis untuk memperluas pasar ekspor nasional di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali menjadi tekanan berat bagi industri kecil dan menengah tekstil serta produk tekstil (IKM TPT). Kondisi tersebut dirasakan langsung oleh para pelaku usaha konveksi yang masih bergantung pada bahan baku impor untuk menjaga keberlangsungan produksi.
Rencana pemerintah memberikan fasilitas kredit berbunga rendah sebesar 6 persen untuk program peremajaan mesin disambut positif oleh pelaku industri tekstil dan alas kaki nasional. Kebijakan tersebut dinilai dapat menjadi dorongan penting bagi industri padat karya untuk meningkatkan efisiensi produksi, produktivitas, hingga daya saing di tengah tekanan produk impor dan kondisi pasar global yang menantang.
Page 1 of 164