Meningkatnya konsumsi pakaian dinilai menjadi salah satu penyebab melonjaknya limbah tekstil yang kini mulai mengancam kelestarian lingkungan. Kesadaran untuk membeli pakaian sesuai kebutuhan pun dinilai penting guna menekan penumpukan sampah tekstil yang sulit didaur ulang.

Industri tekstil nasional kembali menghadapi tekanan berat akibat membanjirnya kain impor asal Tiongkok di pasar domestik. Produk impor dengan harga jauh lebih murah membuat industri lokal kesulitan bersaing, baik dari sisi biaya produksi maupun teknologi, sehingga sejumlah perusahaan terpaksa melakukan efisiensi besar-besaran hingga pemutusan hubungan kerja (PHK).

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS memberikan tekanan besar bagi industri tekstil nasional. Kenaikan kurs yang terjadi pada Kamis (14/5/2026) menyebabkan lonjakan biaya operasional, terutama bagi produsen yang masih bergantung pada bahan baku impor. Kondisi tersebut mendorong pelaku industri untuk mulai menyesuaikan harga jual produk demi menjaga kelangsungan usaha.

Argo Manunggal Group mengembangkan proyek pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atap berkapasitas 4.463 kWp di empat pabrik tekstilnya sebagai langkah meningkatkan efisiensi operasional sekaligus mendukung industri berkelanjutan. Empat pabrik yang terlibat dalam proyek tersebut yakni Argo Pantes, Timatex, Damatex, dan Kamaltex.

Managing Director Argo Manunggal Group, Johny Tjongiran, menyatakan bahwa peng

Pemerintah berupaya memperkuat daya saing industri tekstil nasional melalui penyediaan fasilitas kredit berbunga rendah untuk peremajaan mesin produksi. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan bahwa dukungan tersebut akan diberikan melalui Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank.