Industri manufaktur pakaian jadi di Asia Tenggara terus menunjukkan taji kompetitifnya di pasar global. Berdasarkan data terbaru dari Departemen TI dan Statistik Bea Cukai di bawah Kementerian Keuangan Vietnam, nilai ekspor tekstil dan garmen negara tersebut—tidak termasuk komoditas benang dan serat—berhasil tumbuh tipis sebesar 0,4 persen secara tahunan (year-on-year) hingga mencapai angka 15,130 miliar dolar AS sepanjang periode Januari hingga Mei 2026.

Sektor industri pakaian jadi yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian Sri Lanka kini tengah berada dalam situasi kritis, di mana para produsen skala kecil dan menengah (UKM) menjadi pihak yang paling hancur dihantam krisis. Berdasarkan laporan pemantauan pasar terbaru, nilai ekspor pakaian jadi negara pulau tersebut dilaporkan merosot sekitar 8 persen pada kuartal pertama tahun 2026 jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Penurunan tajam ini menyingkap kerentanan besar pada sektor yang menjadi ladang devisa utama negara tersebut di tengah melemahnya permintaan global dan tingginya ketidakpastian geopolitik.

Industri garmen Sri Lanka, yang selama puluhan tahun menjadi tulang punggung ekonomi negara kepulauan tersebut, kini tengah menghadapi tantangan berat pada awal tahun 2026. Berdasarkan laporan terbaru bertajuk ‘External Sector Performance – March 2026’ yang dirilis oleh Bank Sentral Sri Lanka, nilai ekspor pakaian jadi mengalami penurunan signifikan sebesar 8,2 persen pada kuartal pertama tahun ini. Angka tersebut merosot menjadi $1,17 miliar dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang sempat menyentuh angka $1,28 miliar.

Pasar mode digital China, yang selama ini dipuja sebagai pusat inovasi e-commerce dunia, kini tengah terjebak dalam paradoks yang melumpuhkan: volume penjualan meroket, namun keuntungan justru amblas. Biang keladinya adalah lonjakan luar biasa angka pengembalian barang (returns), terutama pada kategori pakaian wanita, yang kini menyentuh angka fantastis 80 persen. Fenomena yang dulunya dianggap sebagai biaya layanan pelanggan biasa, kini bermutasi menjadi 'pajak retur' yang menguras kantong para pelaku usaha di setiap lapisan rantai pasok.

Industri tekstil rumah tangga Bangladesh mengawali tahun 2026 dengan guncangan hebat setelah mencatatkan kontraksi ekspor yang sangat tajam pada kuartal pertama. Berdasarkan data terbaru dari alat intelijen pencarian, nilai ekspor sektor ini terjun bebas sebesar 47,8 persen secara tahunan menjadi hanya $170,52 juta pada periode Januari hingga Maret 2026. Angka ini sangat kontras jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu yang masih mampu meraup $326,43 juta, mencerminkan melemahnya permintaan secara masif di pasar-pasar utama dunia, terutama Amerika Serikat dan Eropa.