Kesepakatan tarif antara Indonesia dan Amerika Serikat dinilai belum tentu mampu memulihkan kondisi industri tekstil nasional. Walaupun perjanjian tersebut membuka peluang pasar yang lebih luas bagi produk tekstil Indonesia, struktur rantai pasok industri yang panjang membuat sektor ini tetap rentan terhadap perubahan kebijakan perdagangan internasional.
Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, khususnya konflik yang melibatkan Iran, mulai menimbulkan kekhawatiran bagi industri tekstil nasional. Pelaku usaha menilai situasi tersebut berpotensi memicu kenaikan biaya produksi akibat terganggunya rantai pasok bahan baku serta meningkatnya biaya logistik. Oleh karena itu, kalangan industri mendorong pemerintah untuk menyiapkan berbagai stimulus guna menjaga keberlangsungan produksi dan daya saing sektor tekstil dalam negeri.
Pemerintah menilai industri tekstil Indonesia masih memiliki daya tarik yang kuat bagi investor global meskipun dunia tengah menghadapi berbagai tantangan ekonomi dan geopolitik. Optimisme tersebut disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto yang menegaskan bahwa sektor tekstil nasional tetap stabil dan menunjukkan prospek yang menjanjikan di mata pelaku industri internasional.
Ketegangan geopolitik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel kembali memicu kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi global. Konflik di kawasan Timur Tengah tidak hanya berdampak pada sektor energi dan keuangan, tetapi juga berpotensi menekan industri manufaktur padat energi, termasuk tekstil, melalui kenaikan harga minyak dan gangguan rantai pasok internasional.
- Bea Cukai Banten Perkuat Daya Saing Ekspor Lewat Fasilitas Kawasan Berikat untuk Industri Perikanan dan Tekstil
- Skema Rekening Karyawan Terkuak, Rp12,4 Triliun Perputaran Dana Ilegal Sektor Tekstil Dibongkar
- Konflik Timur Tengah Mengancam Rantai Pasok, Industri Tekstil Indonesia Siapkan Strategi Darurat
- Apsyfi Ragukan Serapan Kapas AS Tanpa Pengendalian Impor yang Ketat
- Strategi Dongkrak PAD, Pemprov Papua Jajaki Kerja Sama Produksi Seragam ASN dengan PT Gajah Angkasa Perkasa
- KAHMI Tekstil Tuntut Transparansi MOU Worn Clothing Dalam ART Dengan AS
- CSIS Soroti Potensi Disrupsi Rantai Pasok di Balik Skema Tarif Tekstil 0 Persen RI–AS
- Industri TPT Tunggu Kepastian ART RI-AS, Soroti Mekanisme TRQ dan Dinamika Hukum di AS
- Transformasi Cetak Tekstil Asia Tenggara Makin Cepat Lewat Digital Dye-Sublimation
- Kalangan Pertekstilan Nasional Tolak Impor Worn Clothing
Page 37 of 136
- You are here:
-
Home
-
BERITA TERKINI
- INDONESIA
Terpopuler
- Peserta Pameran Global dari Berbagai Sub-sektor Dipastikan Hadir di Cinte Techtextil China 2025
- Stabilitas Pasar Kapas Global: Harga Acuan Dunia Bergerak Terbatas di Akhir 2025
- Intertextile Shanghai Edisi Musim Semi 2026 Kembali Digelar: Soroti Tren Pasar Mendatang, Inovasi, AI, dan Sustainability
- Kaleidoskop Tekstil dan Produk Tekstil 2025
- Yarn Expo Spring 2026 Soroti Transformasi Industri Menuju Masa Depan Benang dan Serat yang Berkelanjutan
- Industri Tekstil Hadapi Tahun Penentuan, Kendala Masih Membayangi Optimisme 2026
- Industri Tekstil 2025 di Persimpangan Jalan: Ketika Raksasa Satu per Satu Tumbang
Pustaka
- Sejarah Serat Buatan (Man-Made Fibres)
- Sumbu Perlawanan di Atas Sehelai Kain: Sejarah Industri Tekstil Jawa Tengah dan Gerakan Syarikat Dagang Islam H. Samanhudi
- Menapak Jejak Kota Senter: Sejarah Industri Tekstil Majalaya dari Alat Tenun Gedogan hingga Era Modern
- Sejarah Tekstil Indonesia dari Masa Kuno hingga Era Modern
- Sejarah Industri Tekstil Dunia yang Mengubah Wajah Manusia